IPC Terminal Petikemas Fokus Perkuat Operasional Strategis Tekan Biaya Logistik

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:22:00 WIB
IPC Terminal Petikemas Fokus Perkuat Operasional Strategis Tekan Biaya Logistik

JAKARTA - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menetapkan 2026 sebagai tahun penguatan operasional dan layanan untuk memperkuat daya saing di tengah tingginya biaya logistik nasional. 

Strategi ini menekankan bahwa pelabuhan tidak sekadar fasilitas bongkar muat, melainkan aset strategis dalam rantai logistik nasional yang memengaruhi efisiensi biaya dan struktur distribusi industri.

Anak usaha Pelindo Terminal Petikemas ini memandang penguatan operasional sebagai kebutuhan mendasar agar perusahaan mampu memberikan layanan optimal bagi pengguna jasa, masyarakat, dan pemegang saham. 

Langkah ini sekaligus menjadi fase awal implementasi Roadmap Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026–2030, yang mengarah pada pembangunan terminal petikemas yang efisien, andal, dan terintegrasi.

Penguatan Operasional Sebagai Kunci Efisiensi

Direktur Utama IPC Terminal Petikemas, Guna Mulyana, menekankan bahwa penguatan operasional dan kualitas layanan menjadi kebutuhan utama dalam menghadapi tantangan biaya logistik yang tinggi.

“Penguatan operasional dan layanan merupakan kebutuhan utama agar IPC TPK dapat memberikan manfaat optimal bagi pengguna jasa, masyarakat, dan pemegang saham, sekaligus memperkuat peran pelabuhan dalam mendukung arus logistik nasional,” ujar Guna.

Fokus utama tahun 2026 adalah Operational and Service Excellence, fase pertama dari RJPP 2026–2030. Tahap ini bertujuan membangun operasi terminal petikemas yang efisien, terstandarisasi, dan terintegrasi, sehingga menjadi basis pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Tekanan Biaya Logistik Nasional

Indonesia masih menghadapi tantangan tinggi pada biaya logistik, yang mencapai 14,29 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023 menurut data Bappenas dan BPS. Besaran tersebut berdampak langsung pada harga barang, daya saing industri, serta kemampuan ekspor.

Dalam konteks tersebut, penguatan operasional menjadi strategi krusial bagi IPC TPK untuk menekan biaya, meningkatkan kecepatan layanan, dan menjaga kepuasan pelanggan. Perusahaan menargetkan efisiensi biaya yang lebih baik melalui standarisasi proses bisnis, sistemisasi operasional, dan integrasi layanan terminal.

Strategi Digitalisasi Layanan

Sejak 2025, IPC TPK telah memulai sejumlah inisiatif digital yang diteruskan pada 2026 untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi. Langkah-langkah tersebut meliputi:

Terminal Booking System (TBS) untuk mengatur arus kendaraan dan meminimalkan waktu tunggu.

Pemindaian peti kemas guna memperkuat keamanan dan kepatuhan.

Terminal Operating System (TOS) Nusantara melalui sistem PARAMA dan PRAYA, yang menjadi tulang punggung operasional berbasis data untuk pengambilan keputusan real time.

Digitalisasi ini memungkinkan IPC TPK meningkatkan produktivitas, transparansi biaya, dan kecepatan layanan, sehingga mendukung efisiensi operasional secara menyeluruh.

Model Bisnis Hub and Spoke

Selain digitalisasi, IPC TPK merancang model bisnis hub and spoke, sebuah konsep yang mengoptimalkan kapasitas terminal, memperkuat konektivitas antar pelabuhan, dan memperluas jangkauan layanan secara efisien.

Melalui model ini, arus barang dapat disalurkan lebih terstruktur dan biaya logistik dapat ditekan. Strategi ini juga mendukung peningkatan daya saing bisnis perusahaan dan kontribusi terhadap penurunan biaya logistik nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Roadmap RJPP 2026–2030

Roadmap RJPP 2026–2030 disusun dalam tiga fase pengembangan bisnis:

Operational & Service Excellence – fokus pada efisiensi operasional, standarisasi proses, dan integrasi layanan.

Business & Connectivity Enhancement – memperluas jaringan konektivitas pelabuhan dan optimasi kapasitas terminal.

Sustainable Development – mendorong pertumbuhan bisnis berkelanjutan dengan fokus pada inovasi dan digitalisasi.

Ketiga fase ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat daya saing, dan memastikan keberlanjutan bisnis IPC TPK.

Dampak Ekonomi dan Industri

Fokus IPC TPK pada penguatan operasional diharapkan memberikan dampak ekonomi positif bagi industri logistik dan distribusi nasional. Dengan operasi yang lebih efisien, biaya logistik dapat ditekan, sehingga harga barang lebih kompetitif dan industri ekspor menjadi lebih tangguh.

Langkah ini juga mendukung strategi pemerintah dalam mengurangi biaya logistik nasional dan meningkatkan konektivitas antar daerah. Sinergi antara operator pelabuhan, digitalisasi layanan, dan model bisnis baru menjadi kunci pencapaian tujuan tersebut.

Tahun 2026 menjadi momen penting bagi IPC Terminal Petikemas untuk memperkuat operasional dan layanan sebagai basis efisiensi dan daya saing bisnis. 

Strategi digitalisasi, model hub and spoke, dan implementasi roadmap RJPP 2026–2030 menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjawab tantangan biaya logistik tinggi.

Penguatan operasional ini tidak hanya berdampak bagi IPC TPK, tetapi juga bagi seluruh industri logistik nasional. 

Dengan langkah strategis yang tepat, perusahaan mampu menekan biaya, meningkatkan kecepatan layanan, dan memperluas kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Terkini