JAKARTA - Berakhirnya libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 menjadi momen krusial bagi sektor transportasi nasional, khususnya layanan penyeberangan antarpulau.
Pada fase arus balik, perhatian tidak hanya tertuju pada mobilitas masyarakat, tetapi juga pada kelancaran distribusi logistik yang menopang aktivitas ekonomi.
Dalam konteks inilah PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan bahwa arus balik Nataru berjalan terkendali, sekaligus menjaga roda logistik nasional tetap bergerak.
ASDP mencatat layanan penyeberangan selama arus balik berlangsung relatif lancar. Pergerakan kendaraan didominasi oleh truk logistik dan bus, yang mencerminkan distribusi barang tetap berjalan stabil seiring berakhirnya masa liburan.
Kondisi Arus Balik Dinilai Landai dan Terkelola
Direktur Utama ASDP Heru Widodo menyampaikan bahwa arus balik Natal dan Tahun Baru 2025/2026 terpantau dalam kondisi terkendali. Layanan penyeberangan antarpulau tidak mengalami lonjakan signifikan yang berpotensi menimbulkan kepadatan.
“Arus balik Natal dan Tahun Baru 2025/2026 terpantau lancar terkendali. Kami mencatat layanan penyeberangan antarpulau berlangsung relatif landai, dengan pergerakan kendaraan masih didominasi truk logistik dan angkutan bus,” kata Heru di Jakarta, Sabtu.
Menurut Heru, kondisi tersebut menunjukkan bahwa distribusi barang nasional tetap berjalan stabil, meskipun fase puncak libur telah terlewati.
Data H+8: Logistik Tetap Aktif Menuju Jawa
Pada H+8 Natal dan Tahun Baru, ASDP mencatat sebanyak 2.463 unit truk logistik dan 288 unit bus menyeberang dari Sumatera menuju Jawa. Angka ini menjadi indikator bahwa aktivitas distribusi barang masih berlangsung aktif hingga akhir masa liburan.
Heru menilai pola pergerakan ini mencerminkan arus balik masyarakat yang berlangsung bertahap dan terukur. Tidak adanya lonjakan tajam membantu mencegah kepadatan di pelabuhan maupun jalur akses.
Indikasi Manajemen Arus Balik Berjalan Efektif
Tren peningkatan kendaraan tertentu, khususnya truk logistik dan bus, dinilai tidak mengganggu stabilitas layanan secara keseluruhan. Heru menyebut kondisi ini sebagai bukti efektivitas manajemen arus balik yang diterapkan ASDP.
“Pergerakan arus balik kami pantau cukup landai, dengan tren peningkatan pada kendaraan logistik dan bus. Ini menunjukkan distribusi barang tetap berjalan aktif, sementara mobilitas masyarakat banyak menggunakan angkutan umum,” ujarnya.
Berdasarkan data Posko Bakauheni, jumlah truk logistik pada H+8 meningkat 9,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angkutan bus juga mengalami kenaikan sebesar 6,7 persen.
Total Kendaraan dan Penumpang Sumatera–Jawa
Meski terjadi peningkatan pada segmen tertentu, secara agregat total kendaraan dari Sumatera ke Jawa melalui Pelabuhan Bakauheni, Wika Beton, dan BBJ Muara Pilu tercatat 7.420 unit, atau turun 5,7 persen dibandingkan realisasi tahun lalu.
Jumlah penumpang mencapai 30.617 orang, turun tipis 1,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan bahwa arus balik berlangsung lebih merata dan tidak terpusat pada satu waktu tertentu.
Lintasan Jawa–Sumatera Mulai Melandai
Corporate Secretary ASDP Windy Andale menambahkan bahwa pada lintasan sebaliknya, yakni dari Jawa menuju Sumatera, tren pergerakan juga mulai melandai seiring berakhirnya fase puncak mobilitas libur.
Jumlah truk logistik tercatat 955 unit, turun 46,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara jumlah bus mencapai 338 unit, atau turun 4 persen.
Total penumpang dari Jawa ke Sumatera tercatat 30.302 orang, turun 10,3 persen, dengan total kendaraan 5.791 unit atau menurun 21,3 persen.
Menurut Windy, penurunan tersebut mencerminkan kembalinya pola perjalanan ke kondisi yang lebih normal setelah libur panjang.
Kesiapan Operasional dan Pengendalian Kepadatan
Untuk menjaga kelancaran layanan, ASDP terus mengoptimalkan kesiapan operasional. Sebanyak 786 petugas disiagakan di lapangan. Pada kondisi normal, ASDP mengoperasikan 28 kapal, dan jumlah tersebut dapat ditingkatkan hingga 33 kapal saat kondisi sangat padat.
Selain itu, delaying system diterapkan untuk mengendalikan arus kendaraan agar tidak terjadi penumpukan di area pelabuhan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa.
Koordinasi Lintas Instansi dan Penanganan Cuaca
ASDP juga memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk BMKG, KSOP, dan BPTD. Kerja sama ini bertujuan memastikan layanan penyeberangan tetap aman dan optimal di tengah dinamika cuaca dan fluktuasi pergerakan kendaraan.
Terkait akses menuju Pelabuhan Ciwandan yang sempat tergenang akibat curah hujan tinggi sejak Jumat malam (2/1), ASDP menyampaikan bahwa kondisi telah berangsur pulih dan kembali terkendali.
Pengaturan Pelabuhan dan Rekapitulasi Kumulatif
Pelayanan penyeberangan tetap berjalan melalui Pelabuhan Merak untuk penumpang pejalan kaki dan kendaraan golongan I hingga VII. Sementara kendaraan logistik besar golongan VIII dan IX masih dialihkan melalui Pelabuhan BBJ sebagai bagian dari pengaturan operasional.
Secara kumulatif, pergerakan penumpang dari Jawa ke Sumatera melalui Pelabuhan Merak, Ciwandan, dan BBJ Bojonegara pada periode H-10 hingga H+8 tercatat 688.455 orang atau naik 3,5 persen, dengan total kendaraan 150.736 unit atau turun 6,4 persen.
Sementara arus dari Sumatera ke Jawa melalui Bakauheni, Wika Beton, dan BBJ Muara Pilu mencapai 607.767 penumpang atau naik 0,4 persen, dengan total kendaraan 151.367 unit atau meningkat 3,4 persen.
Komitmen ASDP Jaga Stabilitas Logistik
ASDP menegaskan komitmennya untuk terus menjaga layanan penyeberangan yang aman, lancar, dan terkendali.
Stabilitas arus balik Nataru 2025/2026 menjadi bukti bahwa manajemen operasional berjalan efektif, sekaligus memastikan logistik nasional tetap bergerak dan mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi pasca libur panjang.