Kembali Kerja

Kembali Kerja Pasca Liburan Panjang Ini Panduan Psikolog Tetap Tenang

Kembali Kerja Pasca Liburan Panjang Ini Panduan Psikolog Tetap Tenang
Kembali Kerja Pasca Liburan Panjang Ini Panduan Psikolog Tetap Tenang

JAKARTA - Hari pertama kembali bekerja setelah liburan panjang sering kali terasa jauh lebih berat daripada hari kerja biasa. 

Alarm pagi berbunyi, email menumpuk, dan rutinitas kembali menuntut perhatian penuh. Di saat yang sama, pikiran masih tertinggal pada suasana santai, waktu tidur yang panjang, serta momen tanpa tekanan pekerjaan. Perasaan cemas, malas, bahkan hampa pun muncul tanpa bisa dihindari.

Kondisi ini kerap dianggap sepele atau sekadar tanda kurang bersyukur. Padahal, psikolog menyebut pengalaman emosional tersebut sebagai fenomena nyata yang dikenal dengan istilah post-vacation blues. 

Situasi ini dapat membuat hari-hari awal kembali bekerja terasa menguras energi, bahkan bagi mereka yang sejatinya menyukai pekerjaannya.

Perubahan drastis dari ritme liburan yang santai menuju tuntutan pekerjaan yang padat memicu reaksi emosional yang wajar. Tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk kembali beradaptasi. 

Kabar baiknya, kondisi ini bersifat sementara dan bisa dikelola dengan langkah-langkah sederhana agar dampak positif liburan tidak langsung hilang begitu saja.

Mengapa perasaan berat muncul setelah liburan?

Psikolog Monica Johnson, PsyD, pemilik Kind Mind Psychology di New York City, menjelaskan bahwa liburan sering kali dipersepsikan sebagai momen istimewa yang sangat kontras dengan kehidupan sehari-hari.

“Liburan bagi kebanyakan orang adalah pengalaman baru yang menyenangkan, sehingga kembali ke rutinitas yang monoton bisa terasa janggal,” ujar Johnson kepada Self Magazine.

Saat liburan, seseorang biasanya menikmati kebebasan dari jadwal ketat, tekanan target, dan tuntutan tanggung jawab. Ketika semua itu tiba-tiba kembali hadir, otak merespons dengan perasaan tidak nyaman. 

Situasi ini semakin terasa berat ketika seluruh harapan untuk merasa bahagia dan beristirahat hanya ditumpukan pada satu momen liburan.

Banyak orang tanpa sadar menjadikan liburan sebagai satu-satunya pelarian dari rutinitas yang melelahkan. Ketika liburan berakhir, perasaan kehilangan pun muncul karena sumber kebahagiaan tersebut ikut menghilang.

Rapikan rumah sebelum berangkat liburan

Salah satu cara sederhana yang sering diabaikan untuk mengurangi beban emosional setelah liburan adalah menyiapkan rumah sebelum bepergian. Psikoterapis berlisensi Michael Ceely, LMFT, menyarankan agar rumah ditinggalkan dalam kondisi rapi.

“Banyak orang langsung kehilangan mood saat pulang dan melihat tumpukan cucian atau dapur berantakan,” kata Ceely.

Membersihkan rumah, mengganti sprei, atau mengosongkan kulkas sebelum liburan bisa membuat momen pulang terasa lebih nyaman. Lingkungan yang rapi membantu menenangkan pikiran dan mengurangi stres tambahan di hari-hari awal kembali bekerja.

Sisakan satu hari untuk transisi

Jika memungkinkan, beri diri sendiri waktu jeda sebelum kembali ke rutinitas kerja. Ceely menyarankan agar jadwal pulang dari liburan tidak terlalu mepet dengan hari pertama masuk kerja. Satu hari transisi dapat dimanfaatkan untuk beristirahat, membongkar koper, dan menyesuaikan kembali jam tidur.

Hari ini sebaiknya tidak diisi dengan agenda padat. Memberi ruang bernapas setelah liburan membantu tubuh dan pikiran beradaptasi secara perlahan, sehingga energi tidak langsung terkuras di hari pertama kerja.

Hadirkan “nuansa liburan” di rumah

Kembali bekerja tidak berarti semua kesenangan harus berhenti total. Para ahli menyarankan untuk tetap menghadirkan hal-hal kecil yang menyenangkan dalam rutinitas harian.

“Orang sering berpikir harus pergi jauh untuk bisa beristirahat, padahal potongan kecil dari suasana liburan bisa diciptakan di rumah,” ujar Ceely.

Nuansa liburan bisa dihadirkan melalui kegiatan sederhana, seperti makan malam di tempat favorit, mencoba menu baru, atau merencanakan aktivitas ringan yang dinantikan di minggu pertama kerja. Hal-hal kecil ini membantu menjaga suasana hati tetap positif meski rutinitas sudah kembali berjalan.

Dengarkan sinyal dari perasaan tidak nyaman

Meski terasa tidak menyenangkan, post-vacation blues bisa menjadi sinyal penting. Johnson menilai perasaan berat setelah liburan dapat menunjukkan adanya kebutuhan yang belum terpenuhi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pekerjaan maupun gaya hidup.

“Liburan sering dijadikan pelarian dari rutinitas yang tidak memuaskan, padahal satu perjalanan tidak bisa menyelesaikan semuanya,” kata Johnson.

Refleksi sederhana tentang apa yang membuat liburan terasa begitu menyenangkan bisa menjadi titik awal perubahan kecil yang lebih berkelanjutan, seperti mengatur ulang jam kerja, mencari variasi aktivitas, atau memperbaiki keseimbangan hidup.

Jangan langsung “tancap gas” di hari pertama

Kembali bekerja setelah libur panjang sebaiknya tidak langsung dihadapi dengan beban penuh. Memulai hari pertama dengan target realistis dan tugas ringan dapat membantu menjaga kestabilan emosi. Memberi waktu pada diri sendiri untuk kembali menyesuaikan ritme kerja merupakan bagian dari proses adaptasi yang sehat.

Kapan perlu mencari bantuan profesional?

Jika perasaan sedih, kehilangan semangat, atau kelelahan emosional berlangsung lebih dari satu hingga dua minggu, Ceely menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan profesional.

“Jika kondisi ini bertahan lama, itu bisa menjadi tanda masalah kesehatan mental yang perlu ditangani,” ujarnya.

Gangguan tidur, emosi yang tidak stabil, serta kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari merupakan sinyal bahwa bantuan profesional diperlukan. Pendampingan dari psikolog atau dokter dapat membantu membangun rutinitas hidup yang lebih sehat, tanpa harus terus menunggu liburan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.

Kembali bekerja setelah liburan memang bukan perkara mudah. Namun, dengan memahami penyebab post-vacation blues dan menerapkan langkah-langkah sederhana, transisi ini bisa dijalani dengan lebih ringan. 

Liburan tetap memberi manfaat, bukan sekadar kenangan yang cepat pudar saat rutinitas kembali menyapa.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index